Tampilkan postingan dengan label Para Sahabat Rasulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Para Sahabat Rasulullah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Desember 2008

3 Pertanyaan Untuk Ali


Suatu ketika datang sekelompok kecil orang yahudi menghadap Khalifah Abu Bakar as,
setelah tiba di hadapan Khalifah Abu Bakar ra., orang yahudi itu memohon untuk menghadap dan melakukan beberapa pertanyaan:

Yahudi : Wahai Tuan,kami datang kemari hanyalah untuk menanyakan beberapa hal pada
anda,sekiranya anda mengizinkan dan mau menjawab beberapa pertanyaan dari kami!

Abu Bakar ra : Silakan dan apa pertanyaannya,Insya Allah saya akan menjawabnya.

Yahudi : Pertanyaan yang akan kami ajukan adalah sebagai berikut:
Pertama, apa yang tidak di ketahui oleh Allah?
Kedua, apa yang tidak ada pada diri Allah?
Ketiga, apa yang tidak Allah miliki?

Mendengar pertanyaan seperti ini Abu Bakar as-Shidiq ra menjadi marah dan segera mengusir yahudi tersebut, kalau tidak akan dicambuk olehnya.

Dengan rasa takut yahudi itu segera pergi meninggalkan Khalifah dan pergi meninggalkan kota Madinah. Lalu salah seorang sahabat memberikan usul kepada Khalifah agar yahudi tersebut dipertemukan dengan Sayidina Ali bin Abu Thalib mungkin Abu Turab alias Ali bin Abu Thalib ini mampu menjawab pertanyaan yahudi tersebut. Abu Bakar ra mengizinkan karena Ali bin Abu Thalib ra memang dikenal pintar karena dia terkenal dengan sebutan Babul Ilmu(pintu ilmu)dikarenakan sebuah hadist Nabi yang mengatakan:

Aku adalah gudang ilmu dan Ali adalah pintunya. Lalu pergilah orang itu untuk mengejar
yahudi tersebut dan menunjukan kepada mereka orang yang mampu menjawab pertanyaan mereka.
Sesampainya dihadapan orang yahudi tersebut dia segera memintanya agar segera menemui
Ali bin Abu Thalib ra. Bersama-sama dengan yahudi mereka pergi menghadap Abul Hasan
(bapaknya Hasan).Sesampainya didepan rumah Sayidina Ali mereka mengetuk pintu dan memberi salam kepada Abul Hasan,dan menerangkan meksud kedatangan mereka:

Ali bin Abu Thalib : Apa yang bisa saya bantu?

Sahabat Muslim : Ya Abul Hasan,Mereka(yahudi)ini baru saja menghadap Khalifah dan
melakukan pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh beliau.

Ali bin Abu Thalib : Pertanyaan apa itu wahai saudaraku?

Yahudi : Ada tiga pertanyaan yang ingin kami tanyakan kepadamu!

Ali bin Abu Thalib : Apa?

Yahudi :1.Apa yang tidak diketahui oleh Allah?

2.Apa yang tidak ada pada diri Allah?

3.Apa yang tidak Allah miliki?

Ali bin Abu Thalib : Jawaban yang pertama,apa yang tidak Allah ketahui adalah Allah tidak mengetahui bahwa di langit dan bumi ada Tuhan selain Dia. Binasalah yang mengaku ada Tuhan selain Dia.

Untuk jawaban yang kedua,apa yang tidak ada pada diri Allah adalah kezhaliman, karena Allah tidak pernah men-Zhalimi makhluknya.

Untuk yang ketiga apa yang tidak Allah miliki adalah anak dan
istri, karena terlalu hina baginya memiliki anak dan istri.

Yahudi : Engkau benar. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.

Selengkapnya...

Istana Khalifah Umar Bin Khattab


"Dimanakan istana raja negeri ini?" tanya seorang Yahudi dari Mesir yang baru saja tiba di pusat pemerintahan Islam, Madinah.

"Lepas Dzuhur nanti beliau akan berada di tempat istirahatnya di depan masjid, dekat batang kurma itu," jawab lelaki yang ditanya.
Dalam benak si Yahudi Mesir itu terbayang keindahan istana khalifah. Apalagi umat Islam sedang di puncak jayanya. Tentu bangunan kerajaannya pastilah sebuah bangunan yang megah dengan dihiasi kebun kurma yang rindang tempat berteduh khalifah.


Namun, lelaki itu tidak mendapati dalam kenyataan bangunan yang ada dalam benaknya itu. Dia jadi bingung dibuatnya. Sebab di tempat yang ditunjuk oleh lelaki yang ditanya tadi tidak ada bangunan megah yang mirip istana. Memang ada pohon kurma tetapi cuman sebatang. Di bawah pohon kurma, tampak seorang lelaki bertubuh tinggi besar memakai jubah kusam. Lelaki berjubah kusam itu tampak tidur-tiduran ayam atau mungkin juga sedang berdzikir. Yahudi itu tidak punya pilihan selain mendekati lelaki yang bersender di bawah batang kurma, "Maaf, saya ingin bertemu dengan Umar bin Khattab," tanyanya.

Lelaki yang ditanya bangkit, "Akulah Umar bin Khattab."

Yahudi itu terbengong-bengong, "Maksud saya Umar yang khalifah, pemimpin negeri ini," katanya menegaskan.

"Ya, akulah khalifah pemimpin negeri ini," kata Umar bin Khattab tak kalah tegas.

Mulut Yahudi itu terkunci, takjub bukan buatan. Jelas semua itu jauh dari bayangannya. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba wah. Itu baru kelas rahib, tentu akan lebih jauh lagi kalau dibandingkan dengan gaya hidup rajanya yang sudah jamak hidup dengan istana serba gemerlap.

Sungguh sama sekali tidak terlintas di benaknya, ada seorang pemimpin yang kaumnya tengah berjaya, tempat istirahatnya cuma dengan menggelar selembar tikar di bawah pohon kurma beratapkan langit lagi.

"Di manakah istana tuan?" tanya si Yahudi di antara rasa penasarannya.

Khalifah Umar bin Khattab menuding, "Kalau yang kau maksud kediamanku maka dia ada di sudut jalan itu, bangunan nomor tiga dari yang terakhir."

"Itu? Bangunan yang kecil dan kusam?"

"Ya! Namun itu bukan istanaku. Sebab istanaku berada di dalam hati yang tentram dengan ibadah kepada Allah."

Yahudi itu tertunduk. Hatinya yang semula panas oleh kemarahan karena ditimbuni berbagai rasa tidak puas hingga kemarahannya memuncak, cair sudah. "Tuan, saksikanlah, sejak hari ini saya yakini kebenaran agama Tuan. Ijinkan saya menjadi pemeluk Islam sampai mati."

Mata si Yahudi itu terasa hangat lalu membentuk kolam. Akhirnya satu-persatu tetes air matanya jatuh.
Selengkapnya...